Tampilkan postingan dengan label FInance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FInance. Tampilkan semua postingan

Apa yang akan terjadi setelah gejolak di Shanghai Stock Market beberapa hari lalu? Apakah ini menandakan stagnasi China dalam ekonominya yang kini melanju demikian kencang, ataukah kerugian 30% pada saham-saham China tersebut hanya merupakan sedikit “guncangan” dalam perjalanan ekonomi China menuju yang terhebat?
Beragam analisa muncul terkait masa depan perekonomian China. Tentu saja dengan beragam argumentasi dan prediksi, kemana China akan mengakhiri perjalanan ekonomi yang hari ini demikian fantastis bak berjalan di alam mimpi?
Redaksi jokowinomics.com, memperoleh kesempatan untuk mewawancarai seorang pakar keuangan, pengamat ekonomi serta pelaku pasar yang telah lama malang melintang di trading floor valuta asing. Ia adalah  Theo F Toemion.
Berikut petikan wawancaranya:
Q:  Ada selentingan bahwa akan ada sesuatu yang besar, terkait sektor keuangan global di akhir tahun nanti. Apa yang bisa Anda katakan mengenai hal ini?
TFT:  Dalam waktu dekat, mungkin pertengahan Oktober tahun 2015, akan ada sebuah pengumuman yang akan membuat heboh seluruh dunia. Itu benar. Tidak pernah hal seperti ini kita temui dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Pengumuman ini bisa jadi akan merubah sistem keuangan dunia secara massif. Triliunan dolar mungkin saja akan berpindah tangan dalam sekejab. Ini akan menjadi sejarah.
Q: Sederhananya?
TFT: Kita harus bersiap dan waspada. Jika Anda memiliki investasi saham, property, atau mungkin tabungan uang di bank, maka pengumuman ini akan menjadi seperti momentum, bagaimana nasib Anda nantinya.
Q: Siapa yang akan membuat pengumuman itu?
TFT: International Monetary Fund atau IMF. Bulan Oktober nanti, mereka akan mengeluarkan sebuah kebijakan yang secara radikal, akan mengubah posisi pasar uang dunia. Ada asset yang akan naik, ada juga yang akan crash. Yang jelas, akan terjadi efek domino bagi para pelaku pasar. Ada yang akan jadi kaya, ada juga yang akan rugi besar.
Q: Apakah Anda sedang berbicara tentang inflasi, suku bunga, atau tingkat pengangguran?
TFT: Enggak juga. Yang saya maksud adalah sesuatu yang bisa memindahkan uang Anda dengan sangat cepat. Tercepat dari apa yang pernah saya lihat, selama menggeluti pasar uang. Semua tahu bahwa pasar uang merupakan pasar terbesar di dunia. Sangat vital keberadaannya. Jauh lebih besar dari misalnya pasar saham, bursa, serta komoditi. Pasar uang itu 200 kali lebih besar dari pada stock market.
Makanya tidak heran, jika sesuatu terjadi atas pasar yang besar ini, maka semuanya ikut terpengaruh juga. Saya memprediksi bahwa nanti sekitar bulan Oktober 2015, IMF akan mentrigger perubahan dramatis buat siapa saja yang saat ini memegang US Dolar. Suka atau tidak suka, kita sedang mengarah ke sana.
Satu hal yang pasti adalah, hampir tidak ada orang yang membicarakan agenda IMF tersebut. Mungkin satu atau dua artikel singkat iya. Tapi issue ini kalah sama drama krisis Yunani misalnya. Atau gonjang ganjing Shanghai Stock Exchange. Prediksi saya, hal ini akan meledak. Lihat saja kejadian bulan January 2015 lalu di Swiss.
Q: Ada hubungannya dengan mata uang Swiss Franc?
TFT: Tentu saja. Tanggal 15 January 2015, sekitar pukul 9.30 waktu setempat. Sama sekali tidak ada peringatan. Tiba-tiba Bank Sentral Swiss mengumumkan kebijakan “depegging” Swiss Franc. Ingat bahwa saat itu nilai Swiss Franc terikat dengan Euro, yang berarti Franc dianggap sebagai salah satu save haven currency. Suku bunganya sangat rendah, memungkinkan paratraders meminjam dengan menggunakan Franc.
Kemudian dalam waktu overnight, keadaan berubah dan mengirim siapa saja yang tidak siap masuk ke dalam masalah besar. Dalam hitungan jam, Swiss Franc mengalami apresiasi sebesar 40%. Para pelaku pasar kemudian ramai-ramai membuang Franc karena terlalu mahal –apalagi berbicara tentang quality stock seperti Nestle, Credit Suisse, Cartier dan lain-lain. Triliunan hanyut begitu saja, sebuah rekor tertinggi dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.
Q: Apakah Anda memprediksi hal yang sama akan terjadi dengan US Dolar setelah pernyataan IMF nantinya?
TFT: Kita harus tahu bahwa elite IMF ini hanya bertemu dua kali dalam satu dekade, untuk membicarakan pergeseran mata uang seperti ini. Apa yang nanti akan mereka umumkan, bisa jadi akan meletakkan sebuah tatanan baru dalam sektor keuangan dunia. Ketika peristiwa Swiss Franc terjadi Januari lalu, jutaan masyarakat kelas menengah di seantero Eropa rugi besar. Karena Franc dianggap sebagai mata uang teraman, maka semua meminjam dalam Franc. Tiba-tiba semua hutang-hutang mereka membengkak sebesar 40%. Bayangkan, itu kan mimpi buruk.
Q: Ya, dan hari-hari itu terjadi kekacauan luar biasa.
TFT: Buat saya itu bukan hanya kekacauan, tetapi kerusuhan. Dalam beberapa jam saja, semua warga Swiss menyerbu semua mesin ATM di negeri itu. Mereka sebetulnya melihat adanya sebuah kesempatan di tengah kesempitan. Ramai-ramai, warga Swiss melakukan penarikan mata uang Euro dari ATM.
Keesokan harinya, peristiwa itu menjadi headline di mana-mana. Tapi ingat, sebelumnya tidak ada satupun media yang sukses meramalkan kejadian itu. Mana ada koran atau majalah, serta TV yang membahas tentang akan di depeggingnya Swiss Franc?
Sama persis tentang apa yang akan terjadi Oktober nanti. Jika mata uang minor seperti Swiss Franc bisa menimbulkan kegaduhan seperti itu, bagaimana jika nanti US Dolar yang mengalami hal serupa? Apa nda kacau bumi ini?
Demikian juga kita. Mayoritas orang Indonesia menggunakan US Dolar. Hampir semua transaksi asing di luar Rupiah, menggunakan US Dolar. Jika Anda tahu apa yang nantinya akan terjadi dengan US Dolar bulan Oktober mendatang, dan Anda tidak melakukan sesuatu, maka apapun keputusan Anda nanti akan menjadi sangat terlambat.
Q: Pak Theo, ini adalah prediksi yang sangat berani. Apa yang menjadi dasar Anda?
TFT: Begini. Kita harus menyadari bahwa Swiss Franc hanya sebutir debu jika dibandingkan dengan penting dan besarnya pengaruh US Dolar di seluruh dunia. Betul gak? Tapi jika setitik debu ini ternyata bisa menggoyang sebuah negara, bayangkan seperti apa dampak yang akan dihasilkan jika terjadi sesuatu dengan US Dolar?
Ingat bahwa Amerika saja, baik swasta atau pemerintah, memiliki hutang yang 100 kali lebih besar dari hutang negara Swiss. Sementara itu ada sekitar 1 trilun dolar mata uang Amerika tersebut, yang kini beredar di seluruh penjuru dunia –sama dengan 3000 kali lebih banyak dari peredaran Swiss Franc-.
Apa yang akan diumumkan oleh IMF, nantinya akan berdampak pada penggunaan US Dolar di seluruh dunia. Imbasnya tidak hanya akan dirasakan oleh para pelaku pasar, fund manageratau para trader di lantai bursa, tetapi seluruh masyarakat global akan ikut terpengaruh. Inilah arti sebenarnya dari ungkapan ketika Amerika bersin, seluruh dunia terjangkit flu.
Q: Pak Theo, sebetulnya apa sih yang akan diumumkan IMF Oktober nanti?
TFT: Muaranya itu seperti ini: Status US Dolar sebagai world reserve currency lah yang akan bergeser. IMF itu kan seperti club social para bankers dari seluruh dunia. Mereka mengatur sistem keuangan dunia. Mereka jugalah yang memegang kontrol atas apa yang saya sebut tadi,world reserve currency.
Saat ini dunia cuma tahu satu reserve currency yaitu US Dolar, meskipun di seluruh dunia ada sekitar tujuh mata uang besar yang memiliki pengaruh. Nah, inilah yang nantinya akan menjadi pusat pengumuman IMF. Kan semua tahu bahwa yang namanya reserve currency itu pasti sangat vital dalam instrument keuangan dunia. Pemerintah setiap negara memakai world reserve currency sebagai instrument hutang, simpanan dan juga investasi.
Kalau ada perubahan di dalam hal reserve currency ini, pasti langsung jadi headlines. Karena ribuan triliun akan “bergerak” dalam hitungan menit dan itu hal yang sangat fenomenal. Bisa juga menakutkan.
Q: Sebentar Pak Theo. Apakah Anda sedang mengatakan bahwa US Dolar tidak lagi akan menjadi world reserve currency?
TFT: Begini. Saya tidak mengatakan demikian. Prediksi saya, IMF belum akan melakukan hal seperti itu. Mereka tidak akan mengumumkan hal itu di bulan Oktober nanti. Tapi apa yang saya lihat adalah, sesuatu akan terjadi dengan dampak yang jauh lebih besar. Saya yakin IMF akan melakukan perubahan besar dalam sistem world reserve currency. Jadi bukan pada sisi mata uangnya, melainkan sistem dalam menentukan mata uang mana yang akan dijadikan reserve currency.
Saya ingin menjelaskan dulu apa pengertian sebenarnya dari reserve currency itu.
Secara sederhana, reserve currency adalah mata uang yang dipegang dalam jumlah tertentu, sebagai instrument transaksi internasional. Baik untuk pembelian dan pembayaran. Semua orang tahu bahwa US Dolar adalah mata uang yang dimaksud. Selama 48 tahun terakhir, US Dolar tidak tergoyahkan dari posisinya itu. Artinya, US Dolar adalah mata uang yang bisa diterima di seluruh dunia dan yang paling banyak digunakan.
Bagi Amerika, ini membawa keuntungan. Mereka bisa mencetak uang kapan saja mereka mau. Tapi bagi negara lain seperti Indonesia, hal itu menjadi tidak adil sebetulnya. Contohnya begini.
Singapura mau membeli batu bara dari Indonesia. Langkah pertama adalah kedua negara harus terlebih dahulu menukar mata uang mereka ke US Dolar, sebelum melakukan transaksi. Sama juga ketika Indonesia mau membeli minyak ke Arab Saudi.
Itulah pengertian sederhana dari mata uang yang menjadi world reserve currency.
Nah, bulan Oktober mendatang, inilah yang akan terjadi. IMF akan mengumumkan bahwa akan ada satu lagi mata uang yang akan “ditambahkan” sebagai world reserve currency. Artinya ada mata uang lain selain US Dolar, yang akan menjadi reserve currency. Dunia akan memiliki dua mata uang utama. Ketika ini terjadi, triliunan dolar –mungkin ribuan triliun dolar-, akan beralih dari US Dolar, ke mata uang yang nantinya akan ditentukan oleh IMF itu sendiri.
Q: Sebentar Pak Theo, maksud Anda US Dolar akan dimadu seperti itu Pak?
TFT: Oh enggak. Bukan seperti itu. Tapi, di sanalah letak kengerian yang sebenarnya. Kita tidak mengerti dengan permainan seperti ini. Betapa berbahayanya hal ini jika nanti betul-betul terjadi.
Satu mata uang lain selain US Dolar, yang belum pernah menyandang status sebagai world reserve currency, sebentar lagi akan menjadi salah satu mata uang dunia yang bersanding dengan US Dolar. Artinya, sejak Perang Dunia ke Dua usai, kini Amerika harus menerima kenyataan bahwa dominasinya harus dibagi dua.
Sekarang ini dominasi US Dolar hanya bisa disaingi oleh Euro dan Yen.
Dominasi US Dolar sekitar 62%, sementara sisanya dibagi antara Euro dan Yen. Tapi sebentar lagi, prosentase tersebut akan berubah, dengan hadirnya reserve currency ke dua. Tidak ada perubahan sistem keuangan signifikan sebesar ini, yang terjadi dalam 35 tahun terakhir. Ingat, IMF hanya membahasa issue ini dua kali, dalam sepuluh tahun.
Keputusan IMF Oktober nanti, pasti akan menyulut reaksi berantai. Itu mengerikan sekali. Investor yang gagal melihat hal ini akan terjadi, hampir dapat dipastikan akan masuk jurang krisis.
Q: Jika nanti hal ini diumumkan IMF, bagaimana nasib dominasi US Dolar menurut Anda?
TFT: Mungkin bisa sampai 50% dominasi akan tergerus. Tapi begini, selalu ada untung dan rugi. Jika pintar membaca situasi, maka mungkin ada investor yang akan meraup 500% keuntungan akibat perpindahan status mata uang utama dunia ini.
Q: Pak Theo, ini merupakan prediksi yang berani. Siapa sumber Anda di internal IMF?
TFT: Anda tidak memerlukan orang dalam IMF untuk mengerti hal ini. Semua bisa dilihat dalam agenda kerja IMF, yang dipublikasikan secara umum. Bisa dilihat oleh siapa saja koq. Rencana kerja 2015 IMF, menjelaskan kepada kita tentang pertemuan Oktober nanti. Hanya saja, dalam dokumen yang bisa diakses publik tersebut, tidak semua ditulis dengan pernyataan yang bisa dimengerti oleh orang awam. Banyak yang tersirat saja dan hanya bisa dimengerti oleh mereka yang paham akan seluk beluk dunia keuangan.
Khusus untuk hal ini, saya akan menjelaskannya seperti ini. Kita bisa lihat bahwa IMF memulai diskusi yang saya bilang tadi, hanya dilakukan dua kali dalam sepuluh tahun, di bulan Mei 2015. Saat itu mereka bertemu untuk bicara mengenai reserve currency, sesuatu yang mereka sebut SDR.
Kita juga bisa melihat dalam rencana kerja tersebut, bahwa di bulan Oktober 2015, akan ada pengumuman tentang hal ini. Nah, seperti yang saya bilang, prediksi saya adalah IMF akan mengumumkan ada satu mata uang dunia lain, yang akan ditambahkan sebagai world reserve currency di samping US Dolar. Saya tidak tahu persis harinya, tapi berdasarkan pengalaman, IMF selalu membuat pengumuman penting pada hari Selasa. Jadi kita lihat saja nanti kapan persisnya.
Yang menjadi masalah adalah ini. Dari ke enam negara dengan ekonomi terbesar, hanya satu –sekali lagi hanya satu-, yang belum pernah dideklarasikan secara resmi sebagai mata uang dunia. Dan itu adalah Yuan, mata uang China.
Pelaku pasar uang, pasti mengerti hal ini. Pengumuman Oktober nanti, semua akan mengenai China dan mata uang mereka Yuan. Saya yakin, IMF akan segera meresmikan Yuan menjadi salah satu mata uang utama dunia. Titik.
Q: Jika hal itu terjadi, maka Yuan akan memiliki kekuatan besar untuk bersaing di pentas keuangan dunia. Orang akan melepas US Dolar dan memegang Yuan China. Apakah Anda melihat begitu?
TFT: Iya. Jelas demikian. Makanya penting untuk saat ini kita mengambil posisi, sambil terus mencermati setiap detil perkembangan yang terjadi. Mungkin ratusan juta orang yang menyimpan asetnya dalam US Dolar, akan jadi miskin ketika pergeseran ini terjadi. Dalam sejarah umat manusia, mungkin ini adalah pergeseran terbesar.
Q: Tapi Pak Theo, cerita ini kan belum heboh.
TFT: Lihat saja nanti. Semua media akan memberitakan hal ini. Itulah sebabnya, penting untuk kita mengambil langkah yang tepat. Terserah apa kita, termasuk pemerintahan Jokowi akan peduli dengan hal ini, yang jelas ini pasti terjadi. Investasi kita hampir semuanya ada di dalam US Dolar. Sementara permintaan akan US Dolar nantinya akan merosot drastis, pengumuman Yuan menjadi salah satu mata uang dunia, akan seperti gempa berkekuatan 10 Skala Richter pada dunia keuangan.
Q: Kenapa Yuan Pak Theo?
TFT: Ada empat alasan.
Pertama, China adalah kekuatan ekonomi terbesar dunia saat ini, terlepas dari semua masalah yang mereka hadapi. Menurut IMF sendiri, tahun 2014 akhir, China telah melampaui daya beli yang selama ini didominasi oleh Amerika. Menjadi masuk akal, jika kemudian negara dengan kekuatan ekonomi terbesar, memiliki mata uang yang menjadi reserve currency. China saat ini menjadi negara eksportir terbesar. Berarti negara-negara di dunia, akan mencari bantuan keuangan ke China. Termasuk juga Amerika. Hari ini saja, hutang Amerika ke China sudah mencapai paling tidak 1,3 tiliun dolar.
Q: Kalau sudah begitu, koq kenapa lama sekali baru IMF memutuskan Yuan menjadi salah satu world reserve currency?
TFT: Yang perlu ditekankan adalah, ini bukan berarti kiamat untuk US Dolar. Intinya adalah China memiliki jumlah dana yang begitu teramat besar dalam cadangan mereka. Mereka bisa dapat apa yang mereka mau. China juga bisa saja mempersulit Amerika, atau siapa saja yang memiliki hutang ke negara itu.
Sekarang alasan kedua kenapa Yuan menjadi salah satu world resereve currency adalah, tahun 2010 hampir saja mata uang China tersebut disahkan. Jadi ini bukan kali pertama IMF mewacanakan hal tersebut. Satu-satunya alasan Yuan batal menjadi mata uang utama adalah anggapan IMF, bahwa China belum cukup besar dalam hal menjadi negara eksportir, sehingga tidak banyak pihak yang akan menggunakan Yuan sebagai instrument pembayaran.
Tapi sekarang kan beda. China tumbuh dan berkembang dengan pesat. Tahun 2013, China menjadi negara eksportir terbesar. Dalam tiga tahun, volume eksport dan transaksi Yuan, meningkat enam kali lipat. Bahkan di majalah International Business Time, disebutkan Yuan merupakan mata uang nomor dua yang paling sering digunakan di dunia.
Q: Jadi Pak Theo, satu-satunya penghambat Yuan menjadi reserve currency sekarang sudah tidak ada lagi?
TFT: Proses itu perlahan tapi pasti. Ini menjadi alasan ketiga saya. Sebetulnya Yuan secara tidak resmi sudah mejadi reserve currency dunia. Negara-negara seperti Kanada, Jerman dan Hongkong kini memiliki lusinan apa yang dikenal dengan clearing centre, dimana Yuan ditukar dan diperdagangkan. Selain itu, kurang lebih 10.000 institusi keuangan dunia, saat ini melakukan bisnis mereka menggunakan Yuan sebagai instrument keuangan. Angka ini sama dengan peningkatan 1000% dibandingkan Juni 2011.
Q: Menarik sekali. Tapi bagaimana jika Yuan dibandingkan dengan Euro?
TFT: Desember 2013, Yuan berhasil melewati Euro sebagai mata uang nomor dua dunia. Data ini datang dari sebuah agency internasional bernama SWIFT, yang memonitor semua pergerakan mata uang dunia.
Saat ini ada paling tidak 40 bank sentral di dunia, yang telah menanamkan investasi mereka menggunakan Yuan. HSBC, Deutsche Bank, Bank of America, Citigroup, hanya beberapa contoh institusi keuangan yang telah menggunakan Yuan.
Akhir 2014, George Osborne seorang pejabat ekonomi Inggris mengatakan begini, Inggris akan menjadi negara pertama di dunia yang akan mengeluarkan obligasi dalam mata uang Yuan. Ia mengatakan bahwa pemerintah Inggris yakin, bahwa Yuan akan menjadi world reserve currency.
Inilah yang menjadi alasan ke empat, kenapa Yuan akan mendampingi US Dolar sebagaireserve currency dunia, mulai bulan Oktober nanti. Banyak banker-banker ternama yang sudah sering berkomentar, bahwa Yuan akan menjadi mata uang utama dunia. Seorang pejabat departemen keuangan Amerika, Jim Rickards, bahkan mengatakan bahwa Yuan akan menjadireserve currency dari IMF!
Lalu ada seorang deputy managing director IMF, bernama Zhu Min. Ia adalah salah satu figure penting dalam pengumuman Oktober nanti. Entah secara sengaja atau tidak, ia berkata bahwa Yuan pasti menjadi global reserve currency.
Melihat hal ini, kita perlu terus mengamati apa yang akan terjadi. Supaya Indonesia juga siap untuk menghadapi perubahan bersar seperti ini. Jangan sampai nanti kita terjebak, karena tidak siap. Pemerintah pasti tahu persis apa yang harus dilakukan. Penting untuk segera menyiapkan strategi atau langkah-langkah antisipasi dalam menghadapi gejolak keuangan dunia.
http://www.jokowinomics.com/2015/07/13/opini/menanti-pengumuman-besar-bulan-oktober-2015-yang-akan-mengguncang-keuangan-dunia/




Dalam setiap pergantian tahun terdapat banyak peluang bagi investor yang cukup jeli dalam membaca dinamika pasar modal. Apabila Anda termasuk seorang investor yang gemar mengamati pergerakan harga saham di pasar modal, Anda akan segera meng-amin-i sebuah fenomena yang dinamakan fenomena efek bulan Januari.

Ada berbagai pendapat mengenai fenomena efek bulan Januari baik pendapat yang didasari oleh penelitian yang dilakukan di Indonesia maupun penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat.

Hal menarik untuk dipahami bahwa perdagangan di pasar saham Amerika Serikat sudah jauh lebih mature apabila dibandingkan dengan perdagangan yang terjadi di Indonesia (bursa efek jakarta maupun bursa efek Surabaya yang sudah merger menjadi IDX). Walaupun kondisi goegrafis maupun budaya kedua negara cukup jauh berbeda, namun warna dari pasar saham Indonesia sedikit banyak mengikuti warna dari pasar di Amerika. Sehingga dengan mempelajari kondisi dan keadaan yang terjadi di pasar Amerika seorang trader bisa mendapatkan gambaran mengenai perdagangan yang terjadi di bursa Indonesia.



Efek bulan Januari adalah sebuah fenomena dimana harga dari sebagian saham yang diperdagangkan akan cenderung bergerak naik pada minggu-minggu awal bulan tersebut.


Bagi seorang 'long position' trader, ini adalah clue yang sangat penting dimana mereka akan meng-eksekusi strategi ambil untung. Sementara apabila Anda adalah seorang 'short position' trader, maka anda akan memastikan untuk tidak masuk pasar pada periode tersebut.

Hal berikutnya yang patut dicermati adalah efek bulan Januari tidak terbatas pada saham-saham lapis pertama, namun seringkali terjadi pula pada saham-saham lapis kedua dan lapis ketiga. Sebuah perusahaan sekuritas pernah melakukan analisa terhadap data perdagangan IHSG dari tahun 2000 sampai tahun 2011 dan menemukan beberapa hal menarik:

Dalam rentang 11 tahun, terjadi 8 kali kenaikan harga yang mendukung fenomena efek bulan Januari
Dalam rentang yang sama, terjadi 3 kali penurunan harga
Rata-rata return investasi IHSG pada rentang tersebut mencapai 2.4%
Probabilita kejadian efek bulan Januari pada rentang tersebut mencapai kira-kira 78%
Diantara para trader, disepakati ada 3 teori yang mendasari efek bulan Januari.

Teori pertama -yaitu teori yang paling umum- menyatakan bahwa pergerakan pasar yang terjadi pada bulan Januari merupakan indikasi pergerakan pasar dalam tahun tersebut. Pergerakan positif (dimana harga saham cenderung meningkat) mengindikasikan tahun yang menguntungkan; sementara apabila terjadi pergerakan yang cenderung melemah maka mengindikasikan tahun yang bearish. Dengan memperhatikan pergerakan harga yang terjadi di bulan Januari, seorang trader akan memiliki pedoman untuk berinvestasi dalam bulan-bulan berikutnya.

Teori kedua menyatakan pada kejadian efek bulan Januari, saham-saham lapis ketiga (small caps) akan cenderung outperform saham-saham lapis atas dan saham-saham yang sudah mengalami penguatan pada tahun sebelumnya.

Teori ketiga merupakan variasi dari teori kedua dimana dinyatakan pada efek bulan Januari, 5 hari pertama dalam bulan Januari sudah dapat menjadi indikasi yang cukup kuat terhadap tone perdagangan pada tahun tersebut. Dalam kata lain teori ketiga ini mengutarakan bahwa apabila 5 hari pertama perdagangan menunjukkan tone bullish, maka tren tersebut merupakan tren umum yang akan terjadi pada tahun tersebut; begitu pula sebaliknya.

Beberapa penelitian di Amerika Serikat cenderung mendukung teori kedua mengenai efek bulan Januari. Steven G. DeSanctis, seorang strategis di Merril Lynch menemukan bahwa saham-saham lapis ketiga yang tercatat dalam indeks Russel 2000 small caps telah outperformed saham-saham large caps -tidak tanggung-tanggung- sebesar 70% sejak tahun 1926. Steven juga menungkapkan bahwa bulan Januari merupakan bulan penjualan terbaik bagi saham small caps dimana pada umumnya akan mendapatkan peningkatan sebesar 4% dibulan Januari.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh profesor Mark Haugh dan Mark Hirschey dari University of Kansas secara umum telah turut mengkonfirmasikan bahwa saham-saham small caps (lapis ketiga) secara statistik telah outperform saham-saham lapis atas sebesar 2,5% pada perdagangan yang terjadi di bulan Januari. Penelitian tersebut dilakukan berdasarkan data perdagangan antara tahun 1927 sampai 2004.



Small caps vs Big caps

Penjelasan yang paling umum mengenai kejadian fenomena efek bulan Januari adalah para trader besar (baca institusional) melakukan penjualan besar-besaran terhadap saham-saham mereka yang mengalami penurunan pada akhir tahun sebagai upaya untuk mendapatkan pengampunan pajak (tax writeoff). Investor ini kemudian melakukan pembelian kembali pada awal tahun sehingga menimbulkan efek bulan Januari. Sejumlah fund manager juga diindikasikan melakukan hal yang sama dalam upaya untuk "memperbaiki" laporan keuangan triwulan pertama mereka.



Nada (tone) perdagangan selama setahun

Jeff Hirsch -seorang publisher Stock Trader Almanac - mengambil kesimpulan bahwa sejak tahun 1950, setiap kejadian tren bearish pada bulan Januari maka seluruh perdagangan pada tahun tersebut akan mengalami trend perdagangan flat atau bearish. Penjelasan yang paling umum diungkapkan adalah penjelasan yang paling awam, yaitu apabila trader merasa tahun tersebut merupakan tahun yang baik, maka mereka akan memiliki sikap optimis dan akan mengambil posisi seawal mungkin. Begitu pula sebaliknya apabila tahun tersebut tidak dilihat merupakan tahun yang optimis, maka posisi yang akan diambil seawal mungkin adalah posisi bearish.

Bagaimana dengan teori 5 hari pertama? Ternyata teori tersebut tidak dapat dibuktikan dengan cara yang memberikan comfort level yang tinggi. Secara historical, telah terbukti apabila 5 hari pertama perdagangan di bulan Januari memiliki tren positif, maka sedikit diatas 2/3 kali terjadi perdagangan dalam tren yang sama selama setahun penuh. Cukup bagus? Ternyata tidak; pada sisi yang lain data historis juga membuktikan bahwa apabila perdangan 5 hari pertama memiliki tren negatif, dalam kemungkinan yang sama (2/3 kali) pasar tetap bergerak positif dalam setahun penuh.



Bottom line

Jadi, apabila Anda sempat mempertanyakan kebenaran dibalik fenomena efek bulan Januari maka berikut ini adalah fakta-fakta mengenai pasar yang harus Anda pertimbangkan.

History does repeat itself, but it never did exactly the same
Walaupun korelasi antara efek bulan Januari dengan pergerakan tren tahunan cukup tinggi, korelasi yang sama tersebut dapat pula ditarik pada bulan lainnya. Meskipun hubungan sebab akibat tersebut ada, tidak berarti hubungan yang sama tidak terjadi dibulan Februari, Maret, April, dan seterusnya.


Sell in May and Go Away (SMGA) alias Halloween Effect. Ini ungkapan populer di pasar modal Amerika Serikat (AS) untuk menunjukkan kepercayaan terhadap pengaruh "primbon" terhadap harga saham.
SMGA adalah strategi investasi yang unik. Ia tak didasarkan pada analisis fundamental maupun analisis teknikal, tapi aspek musiman atau seasonal strategy.
Dalam buku larisnya Stock Traders Almanac, Jeffrey Hirsch mengungkapkan superioritas periode awal November hingga akhir April (best period) terhadap periode awal Mei hingga akhir Oktober (worst period). Rata-rata kenaikan harga saham Dow Jones Industrial Average pada best period selama 54 tahun terakhir adalah 7,5%. Adapun rata-rata harga saham selama worst period hanya naik sebesar 0,3%.
Makanya, strategi musiman bagi investor adalah menjual saham di awal Mei, lalu memegang cash dan membeli kembali saham di awal November atau menjelang hari Halloween yang jatuh pada 31 Oktober.
Bouman dan Jacobsen (2002) melakukan riset dengan sampel 37 negara dengan data hingga 1998. Mereka mengindikasikan di 35 negara terjadi fenomena Halloween Effect, yakni imbal hasil selama periode November hingga April secara nyata lebih tinggi daripada imbal hasil Mei-Oktober.
Andrade dkk dari CFA Institue (2013) melanjutkan riset Bouman dan Jacobsen dengan meneliti periode 1998 hingga 2012 di 37 negara. Mereka juga menemukan bahwa imbal hasil November-April secara nyata lebih tinggi daripada periode Mei-Oktober. Sayangnya, faktor penyebab fenomena Halloween Effect tersebut hingga saat ini masih belum jelas.
Data imbal hasil bulanan di AS bisa menjelaskan fenomena Halloween Effect. Pada periode Mei hingga Oktober terdapat dua bulan yang buruk kinerjanya, yakni September dan Oktober. September adalah bulan terburuk bagi investor saham di AS. Rata-rata imbal hasil pada September untuk indeks Standard & Poor's 500 sejak tahun 1950 adalah minus 0,65%. Bandingkan dengan bulan terbaik, yaitu Desember yang memberikan rata-rata imbal hasil sebesar 1,59%.
Selain itu, Oktober merupakan bulan yang sering mengalami market crash. Misalnya, Oktober 1929 (anjlok 24% dalam dua hari), Oktober 1987 (turun 22% dalam sehari) dan Oktober 2008 (turun 22% dalam delapan hari).
Ternyata Halloween Effect terjadi pula di Bursa Efek Indonesia. Dari analisis IHSG selama periode 1 Mei 2001 hingga 30 April 2015, saya menemukan rata-rata imbal hasil periode 1 Mei hingga 30 Oktober (worst periode) adalah sebesar 4,65%, jauh di bawah rata-rata periode 1 November hingga 31 April sebesar 18,76%.
Perbedaan ini nyata secara statistik. Dari 14 best period yang diteliti, hanya satu periode di mana investor menderita kerugian (imbal hasil negatif). Adapun dari 14 worst period, ada lima periode dimana investor rugi.
Meski begitu, membandingkan antara worst period dengan best period, dari 14 periode ternyata best period hanya bisa mengungguli worst period sebanyak delapan kali. Sisanya enam kali worst period justru memberikan imbal hasil di atas best period.
Mirip fenomena di AS, pada Bursa Efek Indonesia, Oktober adalah bulan berkinerja terburuk dan Desember adalah bulan dengan kinerja terbaik. Hal tersebut menyebabkan kinerja bursa pada periode Mei hingga Oktober menjadi lebih buruk daripada November hingga April.



Pemerintahan Yunani gagal mencapai kesepakatan dengan para kreditor kemarin, secara otomatis ‘sandiwara Yunani’ kembali dilanjutkan, secara teori jika dalam 5 hari tidak ada kesepakatan maka Yunani akan dinyatakan ‘default’ alias bangkrut. Secara teori jika Yunani bangkrut akan banyak investment banking yang akan mengalami kerugian yang besar, dan secara teori goncangan di struktur keuangan Dunia akan mengakibatkan goncangan juga di bursa Asia termasuk Indonesia. Itulah teorinya… Mari kita lihat kenyataannya, bagaimana reaksi indeks dunia akan belum dicapainya kesepakatan antara pemerintah Yunani dengan para kreditor ?!
Indeks Amerika memang mengalami koreksi tadi malam, jika kita melihat berbagai berita, krisis Yunani yang dijadikan alasan penurunan tersebut, tapi jika kita melihat grafik indeks Amerika setahun terakhir kita bisa melihat bahwa sejak awal tahun indeks Amerika memang sudah tidak naik lagi, dan cenderung bergerak sideways di zona biru. Koreksi yang terjadi tadi malam juga hanya memberi konfirmasi tambahan bahwa trend bullish sudah kehilangan tenanganya di indeks Amerika, ada atau tidaknya krisis di Yunani sepertinya tidak mempengaruhi indeks di Amerika.
Sebagai Ekonomi terkuat di Uni Eropa, Jerman memegang peranan besar pada keberlangsungan EURO, dan juga akan menjadi negara yang terkena dampak cukup besar jika EURO jatuh karena Yunani mengalami kebangkrutan, namun kita belum melihat adanya indikasi kekhawatiran di indeks Jerman meskipun Yunani hanya 5 hari menjelang kebangkrutan.
Di Indonesia jika suatu perusahaan ada di situasi 5 hari menuju kebangkrutan kemungkinan besar sahamnya sudah di suspend atau sudah stuck di 50. Tapi hal yang sama tidak terjadi di Yunani, indeks negara ini hanya terkoreksi kecil kemarin, jika dibandingkan pembukaan kemarin, indeks negara ini ditutup menguat, hal ini menunjukan bahwa tidak ada kekhawatiran berarti terhadap sandiwara ‘Krisis Utang Yunani’. Everything its going to be all right.


Krisis Golbal?
Sepertinya sudah membaik, meskipun secara umum dampaknya baru terasa di awal tahun ini. Namun kalo memperhatikan bursa efek dimana2 sudah membaik, secara logika itu akan memperbaiki kondisi di negeri ini. (Meskipun market kadang berlaku sebaliknya).

Pemilihan presiden di bulan Juli sepertinya akan menjadi momentum bagi sejumlah corporate untuk bergerak. Pertanyaannya ? Apakah itu tidak terlambat ?

Sebagian corporate lain malah mencuekin kondisi yang ada. Bahkan masih ada sejumlah corporate yang menanamkan investasi cukup besar di bulan-bulan ini.

Kondisi ATL juga cukup menurun, sepertinya btl & PR enginering menjadi alternatif solusi disaat ini. the question : kalo semua orang mengencangkan pinggang, bagaimana pertumbuhan bisa terjadi. Untuk mereka yang masih margin lebih tinggi (baca profit) lebih "wise" kalo lebih menggelontorkan budget untuk kegiatan di market guna mendukung kehidupan para supporting market. Sehingga daya beli tetap terjaga ? Atau kah kita hanya menunggu  gelontoran budget dari GOV ? Pilihan di tangan anda......


BR



Andryanto en